Seringkali kita salah dalam memaknai kesabaran.
Kesabaran sering kita bawa ke dalam perspektif yang justru negatif.
Sabar menjadi sangat samar karena bercampur dengan sikap terpaksa.
Sabar yang model terpaksa ini tidak akan mendekatkan diri kita pada kemudahan dan jalan keluar.
Sabar versi terpaksa ini tidak akan menurunka tensi emosional saat diterpa musibah atau terkena hamtaman.
Kita hanya menahan jasad untuk tidak melakukan reaksi negatif, sementara batin kita justru terus bergejolak.
Seperti bom waktu, ia bisa meledak kapan saja, dan ledakannya bisa jadi akan lebih dahsyat.