Senin, 31 Januari 2011

Jangan Percaya Peramal

Rasulullah SAW bersabda,
"Barang siapa yang mempercayai peramal, maka dia terlepas dari apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW."
(HR. Al-Bukhari).

Kenapa demikian karena peramal mengetahui sesuatu hal yang ghaib dengan perkiraan.
Peramal dan dukun memperoleh berita tentang sesuatu dari setan.

Hal itu sebagaimana yang diterangkan oleh Rasulullah SAW bahwa para dukun dan ahli nujum tersebut tidak mengetahui hal yang ghaib, tetapi mereka menjadi budaknya setan yang menguping pembicaraan dari langit.
Lalu apa yang setan dengar disampaikan kepada para peramal dan dibumbui dengan berbagai hal.

Rasulullah SAW bersabda,
"Barang siapa yang mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari."

Syarat Ibadah Diterima

Setiap ibadah tidak akan diterima di sisi Alloh kecuali jika terpenuhi di dalamnya dua syarat.

1. Hendaknya amalan tersebut diikhlaskan semata kepada Allah, karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang dimurnikan semata kepada-Nya.

Allah SWT berfirman,
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus."
(QS. Al-Bayyinah: 5).

2. Hendaknya ittiba' (mengikuti) Rasulullah SAW karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang mencocoki dengan petunjuk Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman,
"Apa yang diberikan rasul kepadamu, maka terimalah.
Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah."

(QS. Al-Hasyr: 7).

Rasulullah SAW bersabda,
"Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak berdasarkan urusan dari kami maka ia adalah tertolak."
(HR. Al-Bukhari).

Jihad Adalah Ibadah

Begitu banyak nash-nash yang menunjukkan perintah Jihad.

Allah SWT berfirman,
"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah."
(QS. At-Taubah: 41).

Rasulullah SAW bersabda,
"Berjihadlah melawan orang-orang musyrikin dengan harta kalian, jiwa kalian dan lidah kalian."
(HR. Abu Dawud).

Bulan Sabit

Pada dasarnya penentuan waktu dengan hilal (bulan sabit) merupakan pokok bagi semua manusia.

Allah SWT berfirman,
"Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit, katakanlah Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji."

Ini berlaku bagi semua manusia, baik yang muslim maupun kafir.

Jujur

Syariat Islam mengajarkan untuk selalu berbuat jujur dalam segala keadaan.

Jujur lahir batin.
Jujur lahir saja akan menimbulkan kerugian untuk Anda sendiri.

Allah SWT berfirman,
"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu.
Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.
Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpan dari kebenaran.
Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan."

(QS. An-Nisa': 135).

Minggu, 30 Januari 2011

Syirik Dosa Besar

Syirik merupakan dosa yang paling besar.
Sebagai umat Islam kita harus menjauhi syirik ini.
Dosa syirik tidak diampuni Allah SWT jika pelakunya tidak bertaubat.
Dosa syirik menjadikan pelakunya kekal di neraka selama-lamanya.

Dosa syirik membatalkan semua amalan yang telah dikerjakan.
Bila demikian maka merupakan kewajiban kita semua untuk mewaspadai syirik dan menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam kubangannya.

Allah SWT berfirman,
"Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah berhala."
(QS. Ibrahim: 53).

Ayat al-Quran di atas adalah sebuah doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim a.s.

Sabtu, 29 Januari 2011

Wajib Mandi Setelah Haid Berhenti

Wanita haid, jika telah suci maka dia wajib mandi dengan membersihkan seluruh badannya.
Hal ini berdasrkan dalil al-Quran sebagai berikut.

Allah SWT berfirman,
"Mereka bertanya kepadamu tentang haid, katakanlah haid itu adalah suatu kotoran.
Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci.
Apanila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri."
(QS. Al-Baqarah: 222).

Imam Nujaim mengatakan,
"Segi perdalilan dari ayat diatas bahwasanya wajib bagi seorang istri memberikan hak berhubungan intim kepada suaminya.
Dan hal itu tidak boleh kecuali setelah mandi.
Apa saja yang menjadikan kewajiban itu tidak sempurna, kecuali dengannya maka hal itu menjadi wajib."

Dalil dari hadits.
Dari Aisyah r.a, Rasulullah SAW bersabda,
"Jika haid datang maka tinggalkanlah shalat, dan bila telah suci maka mandilah dan kerjakanlah shalat."
(Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Darah Haid Najis

Darah haid hukumnya najis, berdasarkan hadits Asma r.a, bahwasanya dia berkata,
"Ada seorang wanita yang menemui Rasulullah SAW kemudian bertanya,
'Seorang wanita pakaiannya terkena darah haid, apa yang harus dia perbuat?'

Rasulullah SAW menjawab,
'Hendaknya dia mengeriknya, menguceknya dengan air, kemudian mencucinya.
Lalu shalatlah dengan memakai pakaian tersebut."
(Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Imam an-Nawawi mengatakan,
"Hadits ini menunjukkan bahwa darah haid adalah najis berdasarkan kesepakatan kaum muslimin."

Jumat, 28 Januari 2011

Kemenangan Telah Datang

Sesudah kota Mekah ditaklukkan, perang Tabuk juga telah usai.
Rasulullah tidak lagi menghadapi tugas-tugas berat.

Dalam tahun kesembilan hijrah ini, Rasulullah SAW menerima utusan-utusan kabilah-kabilah Arab dari segala penjuru yang datang berduyun-duyun menghadap Rasulullah.

Mereka menyatakan bahwa suku mereka menjadi pemeluk agama Islam.
Peristiwa menggembirakan ini diceritakan dalam Al-Qur'an surat An-Nashr ayat 1-3.

Allah SWT berfirman,
"Apabila pertolongan Allah dan kemenangan itu telah datang, dan telah kamu lihat manusia dengan berduyun-duyun memasuki agama Islam, maka bertasbihlah memuji Tuhanmu dan meminta ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Allah itu Penerima Taubat."
(QS. An-Nashr: 1-3).

Asal Usul Tattaqun

Tattaqun ini diambil dari ayat suci Al-Quran dari umat Islam, di antaranya terdapat dalam surat Al-A'raf ayat 65.

Allah berfirman,
"Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad, saudara mereka Hud.
Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.
Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya."

(QS. Al-A'raf: 65).

Tattaqun berasal dari kata takwa.
Takwa kepada Allah SWT, dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.